Tuesday, February 25, 2014

Satu Cerita

Mungkin aku bukanlah seseorang yanag bisa buatmu bahagia. Aku hanya bisa membuatmu kecewa, sedih, menangis, bahkan marah. Aku tidak sesempurna yang kau mau, aku tidak seindah yang ingin kamu lihat, aku tidak seperti mereka tema-temanmu yang selalu ada selalu memberi perhatian selalu mendengarkan semua ceritamu. 
Aku masih merasakan sakit yang sama saat kau mengungkit tentang masalalu. Masalaluku buruk bahkan sangat buruk. Belum tentu orang lain bisa nerima masalalu aku ini. Aku bercermin pada diriku sendiri. Banyak hal yang harus aku perbaiki, aku bukanlah aku yang dulu sayang. Lihatlah aku sudah mulai berubah. Aku sudah mulai bisa meluangkan waktuku untukmu walau itu tidak semuanya.
Yang aku rasakan saat kamu mulai mengingatkan aku tentang masalaluku yang buruk itu seperti aku harus melihat sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Sayang, aku menyayangimu tulus seperti engkau menyanyangiku. Aku ingin tetap tinggal disini dan bertahan disini. Denganmu dan hanya denganmu bukan dia atau mereka tapi kamu.
Ingatlah sayang, hatiku telah kau miliki. Jiwa kita telah menyatu, melebur menjadi satu. Bukan dalam bayang-bayang semu, bukan dalam sebuah kata, bukan dalam sebuah cerita tapi dalam sebuah cinta. Cinta yang dipupuk dengan kasih sayang yang tulus dariku. yaaa sejak saat ini. dengarlah sayang aku akan tetap menunggumu disini, ditempat ini.
Cinta bukanlah masalah bagaimana orang lain tau, bukan masalah kemesraan di depan umun tapi masalah bagaimana kita menghadapinya dengan sabar ikhlas dan hati terbuka untuk pasangan.

Wednesday, February 19, 2014

Untukmu Ayah

Dengan langkah kaki yang tak kenal lelah
Dengan semangat yang begitu membara
Siang malam tak ada bedanya
Dengan ikhlas melakukan aktifitas
Aktifitas yang tidak mudah
Kau tanggung semua itu sendirian
Kau menyembunyikan kesakitanmu
Kau menyembunyikan rasa lelahmu
Kebahagiaan kamilah pengobat rasa lelahmu
Pengobat rasa sakitmu
Apapun kan kau lakukan
Asal kami bahagia
Tak mudah menahan rindu yang membendung di hati
Tak mudah menjalani semua sendiri
Ayah…
Semangatmu tak pernah padam
Rasa cintamu mengalahkan semuanya
Mengalahkan rasa lelah
Mengalahkan rasa kantuk
Mengalahkan rasa sakit
Ayah…
Terimakasih atas semua yang kau beri
Atas semua kerja kerasmu
Dengarlah ayah…
Kami merindukanmu
Kami ingin engkau ada disini
Menghabiskan waktu bersama
Bercerita dengan tawa
Bergurau dengan hangatnya
Kami rindu padamu

Ayah :’)

Monday, December 16, 2013

bukan jarak yang memisahkan kita

Tempat kita sangatlah jauh
Engkau disana
Aku disini
Bertatap dalam sepi
Mengharap datangnya sang pujaan hati
Mencari arti dari hati
Sepi disini
Tanpa hadirmu kasih
Jarak kita memang jauh
Bahkan sangat jauh
Lihat ke langit yang indah
Kita melihat langit yang sama
Lihatlah bintang
Bintang  yang menggambarkan wajahmu
Dalam hatiku
Aku merindukanmu
Aku ingin kamu tahu
Bahawa disini aku menunggumu
Aku menantimu
Sampai engkau kembali
Kita tidaklah jauh
Hati kita tetap besama
Walau jarak memisahkan kita
Percayalah hati kita satu
Seperti bulan dan bintang
Mereka berjauhan
Namun…

Mereka tampak indah jika muncul bersama

Ada Cinta di Pasar Malam


                Dinda seorang gadis cantik yang disukai banyak pria. Tak satupun pria yang  tidak menyukainya. Termasuk Alex teman lelaki dekatnya sejak kecil. Mereka sudah seperti saudara kadung. Kemana Dinda pergi Alex selalu siap mengantar dan menemaninya, begitupun sebaliknya. Kemanapun Alex pergi Dinda siap menemaninya.
                Di halaman kampus terlihat Dinda sedang duduk sendirian sambil membaca buku kemudian Alex menghampirinya.“Heyy jangan so rajin deh  hahaha”  sambil menepuk pundak Dinda.”Eh kamu lex, gapapa dong daripada kamu so pinter hehe” ledek Dinda pada Alex dengan kagetnya, dia hanya nyengir malu karena merasa mungkin. “Din malam ini kamu ada acara gak?”  tanya Alex. “Gak ada lex, kenapa? Mau ngajak nonton yaaa? Hehe” jawab Dinda dengan percaya dirinya. “Yakin gak ada? Ih so tau, aku mau ajak kamu ke pasar malam juga hahaha” ujar Alex sambil tertawa puas melihat percaya dirinya Dinda yang begitu tinggi. “Emang ada pasar malam? Ko aku gatau ih!” jawab Dinda sambil senyum malu. “Kamu si so rajin sampai-sampai gak tau ada pasar malam. Mangkanya aku mau ngajak kamu biar seru!” “Okey aku mau! Tapi nantinya jajanin yaaa, jangan kerjain aku!!” seru Dinda sambil tertawa. Mereka tertawa bersama sambil bergurau seperti biasanya.
                Sepulangnya dari kampus mereka pulang bersama, seperti biasa Alex mengantar pulang Dinda dulu ke rumahnya setelah mengantar Dinda pulang barulah Alex pulang. “pulang bareng Alex?”  tanya seorang wanita dari dapur. “iyah mah, mamah juga tau aku pulang dan pergi sama dia.” Jawab Dinda sambil menghampiri dan mencium wanita itu. Ternyata wanita itu adalah mamahnya Dinda. “ko gak di ajak masuk dulu? Lagi buru-buru emang?” tanya mamah Dinda. “iyah mah buru-buru, soalnya nanti malam aku sama Alex mau pergi ke pasar malam. Dinda ke kamar dulu ya mam”jawab Dinda sambil pergi menuju kamarnya. Sesampainya di kamar Dinda merebahkan badannya di atas kasur yang empuk dan memejamkan matanya hingga ia pergi ke alam mimpi.
                Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.00 namun Dinda masih terbaring di atas tempat tidurnya, berkali-kali mamahnya mengetuk pintu kamarnya namun Dinda tetap tidak bangun. Handphone yang berkali-kali bunyi pun tidak membuat Dinda bangun. “ini anak tumben jam segini masih di dalam kamar, tidurnya lelap sekali. Kecapean mungkin, yasudah nanti juga bangun sendiri.” ujar mamahnya sambil pergi meninggalkan kamar Dinda.
                 Tak lama kemudian untuk kesekian kalinya handphone itu berbunyi lagi barulah Dinda bangun dari alam mimpinya dan mengangkat telepon itu. “Hallo, Din kamu engga kenapa-kenapa kan? Kamu baik-baik aja kan?”  tanya seorang lelaki dari telefon itu yang sudah tidak asing lagi suaranya, ternyata itu Alex. “Hallo, iya aku engga kenapa-kenapa ko. Emang kenapa? Ko kaya yang khawatir gitu sih?” tanya dinda dengan nada lemas. “habis dari tadi aku telepon engga di angkat, sms juga engga di bales. Abis dari mana emang nyonya?” jawab Alex sedikit kesal. “oh maaf lex gak kedenger, aku baru bangun tidur hehe” jawab Dinda dalam keadaan setengah sadar.”uh kamu tidur aja, mandi sana cepetan. Dandan yang cantik jam 7 malam aku jemput kamu ke rumah okey!” ujar Alex “habis capek banget tugas kampus numpuk tadi hehe okey aku tunggu.” “yasudah sampai bertemu nanti” “okey bye!” tttuuutt..tttuuttt…ttuuuttt telepon tertutup. Dinda bangun dari tempat tidurnya lalu pergi ke kamar mandi.
                Selesai mandi Dinda tidak bergegas rapi-rapi atau berdandan, tak seperti biasanya dia malah asik nonton tv bersama mamah nya sampai-sampai dia lupa ada janji dengan Alex malam ini. Bel berbunyi. “biar Dinda yang buka mah.”  Ujar Dinda sambil pergi menuju pintu depan. Ketika pintu di buka, Dinda melihat pria yang sudah taka sing baginya. “Alex?”  tanya Dinda bingung. “eh Din, kamu ko belum siap?” jawab Alex. “oiyah aku lupa mala mini kita mau pergi kan? Maaf lex, aku ke asikan nonton tv nih sama mamah. Jarang-jarang sih hehe yaudah aku genti baju dulu deh ya, kamu masuk aja” ajaknya. Alex masuk dan menemui mamahnya Dinda. “eh Alex, mau pergi ya? Pergi kemana?” tanya mamah Dinda. “mau ajak Dinda ke pasar malam tante, boleh kan? Hehe” jawab Alex. “boleh saja, tapi kamu jagain dia yah. Tante percaya sama kamu.” Ujar mamahnya Dinda sambil tersenyum. Memang mamahnya Dinda sangat dekat dengan Alex, mamahnya Dinda sudah mengenal Alex sejak kecil. Tak lama kemudian Dinda keluar dari kamarnya.”Ayo lex kita berangkat” ajak Dinda. “ayo” jawab alex singkat. “mam Dinda keluar dulu yah, mamah hati-hati dirumah” ujar dinda sambil mencium mamahnya. “iyah sayang, kamu juga hati-hati. Alex, tente titip Dinda yah” “iyah tante, yasudah kami pergi dulu ya” jawab alex. Mereka pergi meninggalkan rumah Dinda.
                Sesampainya di pasar malam mereka pergi untuk mencari makan terlebih dahulu. Mereka menghampiri pedagang sate. “sate disini enak ga?” tanya Dinda. “kalau kata aku sih enak, tapi gatau kata kamu hehe” jawab Alex. “kalo kata kamu enak pasti enak, soalnya selera lidah kamu sama aku kan sama hehe” canda Dinda. Selesai makan, mereka pergi ke arena permainan, setelah puas bermain mereka duduk di sebuah bangku di taman dekat pasar malam itu. Dinda merasakan ada yang berbeda dari Alex malam itu, dia sangat terlihat canggung dan tidak seperti biasanya.
Sambil memakan permen gula yang dibeli tadi di pasar malam, Alex tiba-tiba berbisik pada Dinda. “aku sayang kamu” bisiknya lembut di telinga Dinda. Sontak Dinda kaget, tidak seperti biasanya dia seperti itu. “apa? Kamu sayang aku?” tanya Dinda heran. “iyah Din, aku sayang kamu. Selama ini aku diam-diam menyukaimu. Maafkan aku, aku baru mengatakan ini padamu.” jawab Alex. Sejenak mereka terdiam. Dinda bingung atas apa yang dia rasakan sekarang. Alex membuka pembicaraan kembali “ apa kamu mau untuk jadi kekasihku?” tanya Alex sambil menatap Dinda denngan lembutnya. “Kekasihmu? Apa kau benar-benar mengatak itu? Kau sedang bergurau kah?” tanya Dinda untuk memastikan. “aku tidak bergurau Din, aku benar-banar menyukaimu. Aku ingin kamu menjadi kekasihku, bukan hanya sekedar teman atau sahabat. Aku mencintaimu Din!” tegas Alex. “jujur aku juga merasa nyaman denganmu, tapi aku belum bisa memastikan perasaanku padamu lex. Selama ini kita selalu bersama, dan kamu tau aku belum berfikir untuk mempunyai kekasih. Maafkan aku.” Jawab dinda. Dengan jawaban seperti itu, Alex mengerti. Dinda sedang menikmati kesendiriannya. “baiklah, aku mengerti keadaanmu.” Jawab alex singkat. “maafkan aku ya lex, aku gak bermaksud buat nyakitin perasaan kamu. Aku harap kamu memang mengerti keadaanku.” Ucap Dinda dengan nada bersalah. “iyah engga apa-apa ko, aku ngerti. Aku tetep sayang kamu biarpun kamu masih ingin sendiri.” Jawab Alex. “kita tetep sepeti biasakan?” tanya Dinda. “iyah Din kita tetap seperti biasa, dan aku harap kamu tetp menjadi Dinda yang aku kenal. Anggaplah kejadian ini tidak pernah terjadi.” “makasih lex, kamu memang pengertian.” “aku harap kamu tidak meninggalkan aku Din.” “aku enggak akan pernah ninggalin kamu lex, kamu sudah seperti kaka aku. Jika kita memang berjodoh kita akan di persatukan. Jangan khawatir.” Mendengar perkataan seperti itu, Alex hanya tersenyum.

Memang Alex adalah seorang pria yang baik hati, dia tidak sombong dan tidak seperti kebanyakan pria lainnya. Dinda mengenal banyak tentang Alex, namun satu hal yang belum dia kenal dari Alex. Cintanya.

merindu

Burung-burung yang bernyanyi merdu 
Membangunkanku dari alam mimpi 
Semua mimpi tentangmu 
Mentari yang tersenyum 
Menyapaku dengan hangatnya di pagi ini 
Sehangat sapamu pagi ini 
Embun yang menetes menyejukkan hati 
Sesejuk tatapan matamu 
Angin yang berhembus mesra menyapaku dengan lembutnya 
Selembut sikapmu padaku

Semerbak harumnya bunga 
Seharumnya hadirmu di sisiku 
Lamabaian daun-daun pada ranting 
Seperti lambaianmu yang mengajakku untuk tersenyum 
Tersenyum dibalik kesedihan hati 
Tersenyum dibalik air mata 
Coba kau tatap mataku ini 
Tatap lebih dalam 
Tersimpan sejuta tanya dan kesedihan 
Jika kau mengerti akuJika kau paham aku
Kau akan tauSeberapa besar rasaku padamu 
AnginSampaikanlah rasa rinduku padanya 
Rinddu yang tak bisa ku gambarkan 
Dengan untaian kata-kata

Tuesday, December 10, 2013

Kita

Cinta yang dulu hilang
Kini dia kembali
Kini dia disini
Kini dia tenamani
Kini dia jauh lebih dalam di hati
Yaaa dia
Dia yang selalu ku tunggu
Disetiap waktuku
Disetiap denyut nadiku
Disetiap hembusan nafasku
Hanya dia yang mampu membuatku luluh
Luluh dalam diamku
Diam yang membuatku tersenyum
Akan ku tata kembali
Masa dimana kita bersama
Hanya ada kau dan aku
Yaaa hanya kita
Kita dengan harapan baru
Kita dengan masa yang baru
Kita dengan lembutnya menyambut dunia
Dunia kita yang lebih indah

Friday, December 6, 2013

serpihan kaata

Apa kau melihat tulisan-tulisan yang  ku tulis di media social? Dimana semua yang ku tulis itu tertuju padamu! Apa kau mengerti maksud semua tulisan-tulisan konyol itu? Apa kau pernah mencoba mengartikannya? Apa kau pernah bertanya mengapa aku menulis itu? Mengapa kau hanya terdiam dan tidak mencoba mencari tau arti semua itu?!!
Apa kau hanya berpura-pura memperdulikanku? Berpura-pua menyayangiku? Jika kau memang benar menyayangiku kau takkan menyerah untuk mendapatkanku. Aku bersikap acuh untuk melihat seberapa besar pengorbananmu untuk mendapatkan cintaku. Segitukah hal yang kau perjuangkan? Hanya segitu? Tidak ada lagi??
Apa kau tidak melihat dibalik sikap acuhku tersimpan sejuta kebahagiaan saat kau memperhatikanku, menghawatirkanku dan menemani hariku. Apa kau tidak merasa? Apa kau tidak mengerti arti kepedulianku? Apa kau hanya akan diam dan diam?? Tidak menyapaku dengan bawelmu yang membuatku ingin menutup telingaku? Dengan rayuan gombalmu yang membuatku ill feel? Dengan perhatianmu yang sangat romantic?
Apa kau lelah dengan semua ini? Lelah untuk memperjuangkan apa yang kau rasa? Kau sudah tidak sanggup lagi? Yaaa untuk menghadapiku memang diperlukan kesabaran yang besar. Bukankah sabar itu tidak ada batasnya?

Kau tau apa yang harus kau lakukan. Aku tidak akan banyak bicara dan bertindak. Biarkanlah waktu yang akan menentukan kapan kita akan saling terbuka.

T- Mobile - iPhone 14

Images of the iPhone 14 Pro from T-Mobile inadvertently display the separate pill + hole punch configuration. We all anticipated...